LAPORAN BACAAN (7)
Bismillah
Nama: Mikuranda
Nim: 11901204
Makul: MAGANG 1
Tugas Laporan Bacaa
Assalamu’alaikum
Identitas Buku:
Buku : PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DALAM IMPLEMENTASI STRATEGI CONTEXTUAL TEACHING LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS POKOK BAHASAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Penulis : Agnes Remi Rando
Penerbit : Universitas Negeri Surabaya
Cetakan : Volume 1 Nomor 1 Tahun 2016
PEMBAHASAN
Hasil bacaan yang bisa saya sampaikan tenteng perangkat pendidikan yaitu ada beberapa ahli antara lain ialah Peneliti Hasnawati (2006), mengatakan dengan mengaitkan materi pelajaran (instructional content) dengan konteks kehidupan dalam kebutuhan siswa akan meningkatkan motivasi belajarnya serta akan menjadikan proses belajar mengajar lebih efisien dan efektif. Pendekatan belajar ini disebut pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning). Proses belajar kontekstual terjadi dalam situasi kompleks dan hal ini berbeda dengan pendekatan behaviourist yang lebih menekankan pada latihan. Menurut Nurhadi dalam Mundilarto (2004:70) contextual teaching and learning merupakan konsep belajar mengajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dikelas dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat. Tujuan penelitian penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis kelayakan perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP dan LKS dengan menggunakan strategi contekstual teaching learning dan untuk mendeskripsikan dan menganalisis hasil belajar siswa pada pokok bahasan perkembangan teknologi mata pelajaran IPS setelah menggunakan strategi contextual teaching learning. Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching Learning merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departemen Of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perluh mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mereka mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupan nantinya. Contextual Teaching Learning biasa disebut dengan pembelajaran kontektual merupakan konsep belajar yang dapat mendorong siswa menghubungkan pengalaman akademis mereka kedalam konteks kehidupan nyata sehari-hari. (Johnson, 2002:24). Menurut Depdiknas (2003:5) Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka. Contexstual teaching learning adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna didalam materi yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Untuk mencapai itu system tersebut terdiri dari: (1) membuat keterkaitanketerkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, (4) melakukan kerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai standard yang tinggi, (8) menggunakan penilaian autentik. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila dapat mengaitkan pengetahuan akdemiknya dengan kehidupan sehari-hari atau dapat menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengetahuan yang telah diterimanya sekarang. Pembelajaran kontekstual didasarkan empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNISCO (dalam Muchith, 2008:5) adalah, (1) Learning to do, maksudnya pembelajaran diupayakan untuk memberdayakan peserta didik agar mau atau bersedia dan mampuh memperkaya pengalaman belajarnya, (2) Learning to know, yaitu proses pembelajaran yang didesain dengan cara mengintensifkan interaksi dengan lingkungan baik lingkungan fisik, sosial, dan budaya sehingga peserta didik mampuh membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia disekitarnya, (3) Learning to be, yaitu proses pembelajaran yang diharapkan mampuh membangun pengetahuan dan kepercayaan diri siswa. Pengetahuan dan kepercayaan diri itu diperoleh setelah peserta didik aktif melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar, (4) Learning to live together, pembelajaran yang lebih diarahkan dalam upaya membantu kepribadian untuk memahami dan mengenal keanekaragaman (kemajemukan) sehingga melahirkan sikap dan perilaku positif dalam melakukan respon terhadap perbedaan atau keanekaragaman.
serta ada beberapa Untuk menerapkan pembelajaran kontekstual, menurut Suyanto, (2008:11) ada tujuh komponen utama yang perluh diperhatikan oleh guru yaitu: 1. Konstruktivisme (contructivism); (a) Membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal, (b) Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalamanpengalaman belajar bermakna, (c) Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru yang bisa berubah 2. Menemukan (Inqury); (a) Diawali dengan kegiatan pengamatan dalam rangka untuk memahami suatu konsep, (b) Langkahlangkah terdiri dari kegiatan mengamati, bertanya, menganalisa, dan merumuskan teori, baik secara idividu maupun bersamasama, (c) Mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis 3. Bertanya (questioning); (a) Digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa, (b) Digunakan oleh siswa selama melakukan kegiatan berbasis inkuiri, (c) Digunakan guru sebagai strategi agar siswa berani mengungkap kemampuan memberi jawaban/informasi 4. Masyarakat belajar (Learning community); (a) Berbicara dan berbagai pengalaman dengan orang lain, (b) Bekerjasama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran adalah lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri, (c) Berdiskusi dan menggali informasi bersama tentang suatu objek 5. Permodelan (Modeling); (a) Berpikir dan mengungkapkan tentang proses belajar anda sendiri, (b) Mendemonstrasikan bagaimana anda menginginkan siswa untuk belajar, (c) Melakukan apa yang anda inginkan dari siswa untuk belajar. 6. Refleksi (reflection); (a) Cara-cara tentang apa yang telah kita pelajari, (b) Mengkaji dan merespon terhadap kejadian, kegiatan, dan pengalaman, (c) Mencatat apa yang telah kita pelajari, bagaimana kita merasakan ide-ide baru, (d) Dapat berupa jurnal, diskusi, maupun hasil karya/seni 7. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment); (a) Mengukur pegetahuan dan keterampilan siswa, (b) Mempersyaratkan penerapan pengetahuan dan keterampilan siswa, (c) Penilaian produk atau kinerja, (d) Tugas-tugas yang kontekstual dan relevan, (e) Proses dan produk dua-duanya dapat diukur.
dan yang di maksud perangkat pembelajaran yang ada di buku ini ialah Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan guru dan siswa dapat melakukan kegiatan pembelajaran. Menurut Devi (dalam Nufus, 2013), Perangkat pembelajaran merupakan pegangan guru dalam melaksanakan pembelajaran baik dikelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap kompetensi dasar. Perangkat pembelajaran sebagai pegangan guru dalam melaksanakan pembelajaran tersebut meliputi silabus, RPP, LKS, Buku ajar serta lembar penilaian. Pembelajaran merupakan suatu proses untuk mengembangkan potensi siswa baik potesi akademik, potensi kepribadian, dan potesi sosial. Menurut Nievan (Nufus, 2013), perangkat pembelajaran dikatakan berkualitas baik jika memenuhi aspek kualitas: validitas, kepraktisan, dan keefektifan. Perangkat pembelajaran dikatakan berkualitas baik jika memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Validitas Perangkat dikatakan baik dan valid jika menurut penilaian validator setiap komponen yang ada pada setiap perangkat yang dikembangkan berhubungan secara konsisten dan dalam kategori baik.
2. Kepraktisan Perangkat dikatakan praktis apabila berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan perangkat pembelajaran memenuhi kedua indikator berikut: a) Menunjukan bahwa semua aspek atau kelompok pada setiap fase dalam perangkat pembelajaran mudah digunakan oleh guru atau terlaksana sesuai dengan petunjuk yang diberikan pada saat guru melaksanakan pembelajaran dikelas. b) Menunjukan bahwa aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung baik dan lancar.
3. Keefektifan Perangkat pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi indikator: a) Ketercapaian hasil belajar disesuaikan dengan standard nilai ketuntasan minimum (KKM) yang ditentukan sekolah. b) Respon siswa terhadap pembelajaran adalah positif jika presentase banyak siswa yang menyatakan positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar