Minggu, 11 April 2021

MENGALISIS BUKU BACAAN KE 1 (mikuranda)

 LAPORAN BACAAN (1)

 


Bismillah

Nama: Mikuranda

Nim: 11901204

Makul: MAGANG 1


Tugas Laporan Bacaa

Assalamu’alaikum


Identitas Buku:

Buku               : KULTUR SEKOLAH DAN KINERJA PESERTA DIDIK

Penulis             : Nurul Imtihan

Penerbit           :Universitas Islam Negeri Mataram

Cetakan           : Nomor 2 , Agustus 2018, volume 6


Pendahuluan

Pendekatan kultur dalam meningkatkan mutu saat ini mulai memperoleh perhatian untuk melengkapi konsep pendekatan struktur yang telah lebih dulu berkembang dalam praktek pengelolaan sekolah. Menurut Sastrapratedja (2000: 5), “struktur” dan “perilaku” selama ini merupakan dua konsep yang sangat dominan dalam pendekatan pelatihan untuk memperbaiki kondisi organisasi. Tetapi pendekatan ini tidak mampu menjangkau “sumber-sumber kemanusiaan” dalam suatu profesi. Oleh karena itu para ahli mulai berpaling kepada “manajemen berbasis nilai”. Pendekatan ini menekankan kepada upaya mengembangkan hubungan kolegial, kepercayaan satu terhadap yang lain, saling pengertian dan dukungan. Itu semua pada gilirannya akan menjadi perbaikan berkesinambungan dan pemberdayaan seluruh warga sekolah. Pendekatan budaya juga menekankan kepada penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, dan riwayat sekolah, yang kesemuanya itu akan membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya.


Pada bab 1 membahas tentang 

1. Istilah kultur berasal dari bahasa Inggris “culture” yang dalam keseharian disinonimkan dengan istilah “budaya”. Kultur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebudayaaan (Depdiknas, 2001: 611). Istilah budaya sendiri dalam berbagai wacana, ada yang membedakan dan ada juga yang menyamakannya dengan kebudayaan (Koentjaraningrat, 1983: 183). Dikatakan berbeda sebab budaya berasal dari bahasa Sanskerta “buddhi”, yang berarti “budi” atau “akal” yang berupa cipta, rasa, dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa itu. Dikatakan sama sebab dari segi anthropologi budaya misalnya, budaya merupakan singkatan dari kebudayaan. Dengan demikian, kedua istilah itu sebenarnya mempunyai pengertian yang sama.

2. Pengertian Kultur Sekolah Menurut Zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi (baca pembelajaran) secara efektif dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu definisi baku tentang budaya, demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah. Berdasarkan berbagai definisi tentang budaya, Zamroni merumuskan pengertian kultur sekolah sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.

3. Elemen-elemen Kultur Sekolah Sebagaimana telah digambarkan dalam pengertian di atas, kultur sekolah merupakan perangkat budaya yang terdiri dari sejumlah norma-norma, ritual-ritual, keyakinan, nilai-nilai, sikap, mitos, dan kebiasaan yang terbentuk Sepanjang perjalanan sekolah yang bersangkutan. Bentuk kultur sekolah secara intrinsik muncul sebagai sebuah fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yang dapat berfungsi sebagai suatu spirit yang mendukung dan membangun kinerja sekolah.


Dan pada bab ke 2 membahas tentang Peran Kultur terhadap Peningkatan Kinerja Sekolah Kinerja sekolah (Depdiknas, 2001: 152) adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah, yang dapat dilihat dari produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja dan moral kerjanya. Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswa yaitu hasil belajar dan atau perilaku belajar, dalam hal ini disiplin, motivasi, daya saing dan daya kerja sama, kemampuan untuk berprakarsa dan memperhitungkan resiko serta sikap pencapaian prestasi dalam persaingan. Khusus berkenaan dengan output sekolah dijelaskan bahwa output sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah khususnya prestasi anak didik menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal: (1) hasil tes kemampuan akademik, berupa nilai ulangan umum, UAS, UAN; (2) prestasi di bidang nonakademik, seperti olah raga, seni, keterampilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar